To forgive is perfect revenge, and to improve is perfect surrender. Kadang-kadang tidak ada kata-kata yang lebih pas untuk menggambarkan sesuatu hal selain dengan paradoks. Terutama hal-hal yang abstrak sentimentil, seperti kesedihan, kebahagiaan, kesempurnaan, kesuksesan, mood dan lain sebagainya. Karena memang entitas bernama perasaan atau hati nurani itu arguably lebih luas, lebih dalam, dan lebih kuat dari apa yang words could ever cope with. Or even logic could ever comprehend, dare I say. Dan hati nurani kita lah yang define what/who we are, eventually, not our words, nor our logic. */ iki ngomong opo toh paklek ? >,<’ */
Hati nurani, jiwa, perasaan, naluri, human nature, conscience, fitroh, you name it. Ada yang menggambarkan hati kita ini awalnya seperti kaca yang bening. Di kaca yang bening kita bisa melihat bayangan benda dengan jelas, sebagaimana aslinya. Seperti proyeksi pada cermin datar maka bayangannya maya, tegak, sama besar, jarak = fokus >,<’ . Sebaliknya apabila kaca itu kotor, maka kita tidak akan bisa melihat bayangan benda dengan jelas. When we see the things right, we tend to act/react right. And we act/react right, we feel alright. When we feel alright, all is bright. After all, is there anything better in this life than feeling alright? How many people were willing to die fighting what they felt wrong about? Let alone to tweet and to update their social networks status.
Dalam hidup kita sehari-hari, as I mentioned in my previous posts here, di mana sebagian besar waktu dan potensi terbaik kita dihabiskan di lingkungan karir kita, mau tidak mau kaca bening kita akan kotor. Di tengah pergelutan kebutuhan, perintah atasan, order layanan, target pencapaian, bermacam cicilan, tagihan, sumbangan, iuran, dan arisan >,<’ . Di tambah lagi gejolak nafsu */ mew, sounds like late 90′s Indonesian movie */, betapa hausnya kita akan pengakuan, kekayaan, makanan, pakaian, kendaraan, bepergian etc. And that’s all where the heart polution started. Semua “an-an” itu secara tidak sadar menjadi tuan kita yang harus kita layani dan puaskan dengan segala cara. The rest is common news we read in today’s papers. Iri hati, sikut sana-sikut sini, breading hatred, ngerasanin buka-buka aib bahkan fitnah, main belakang, pembunuhan karakter, merasa lebih dari yang lain, not to mention the physical violence conduct. Bahkan kadang-kadang hanya karena salah paham saja, kita jadi musuh bebuyutan. Semua hal itu terjadi di tempat kerja kita dengan skala dan kompleksitas masing-masing. Thus, betapa kotornya hati kita.
Ada satu bulan dalam satu tahun, di mana hati kita dimanjakan. Seiring dengan beban pekerjaan yang berkurang, nafsu kita dikekang, kita punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal lain, in order to get alright feeling. Pembicaraan pun menjauh dari hiruk pikuk dunia yang membuat resah. Belum lagi kenikmatan menyantap konsumsi rohani yang melimpah. Kesibukkan kita berubah, dan senyum tulus dalam lapar kita merekah. Permusuhan, persaingan luntur ditelan kesabaran dan ketenangan rohaniah. Khusyuk dalam kemakhlukan kita yang lemah. Hakekat hidup dalam nuansa yang syahdu indah. Ramadhan.
Bulan pembakaran dan pensucian inilah kesempatan kita untuk mendapati hati kita bening kembali. Membenarkan kembali sudut pandang kita akan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Keluarga, karir, hobi, dan lain-lain. Sehingga we’ll feel alright anytime anywhere. Selepas Ramadhan, kita berlomba-lomba meminta maaf dan memaafkan, berlomba-lomba mengaku salah. Any normal people would love such peaceful atmosphere. Why on earth we can’t have it all years? Well, at very least, now we know how to make it better worlds. Better us, firstly.
Taqobal ALLAH mina wa minkum. Very deeply humbly sorry for any kinda offending words I ever wrote here.
