The best part of working your socks off, crawling for your career improvement, is when you’re coming home in the evening, and let your faithfully waiting wife and son have your finest honest face smiling. Di kala cahya surya kuning melemah, aura hangat yang membelai ramah. Nuansa masa yang menua, riuh gaduh yang menjauh, Bergegas kita beranjak pulang, sebelum merah langit menjelang. Tawa bersambut, jiwa bertaut. Belahan hati, betah menanti. There, there, your beloved one, two or three. Right in front your door, the smiling spree. Band of bloods ought to set your soul free. Coming home as a bird flies to it’s tree. A glorious glee. */No, I’m not gonna spoil it with any of my typical crunchy childlike countrified jokes*/
Masa-masa yang kita gunakan untuk bekerja, berkarir, mencari nafkah, mengais-ngais rejeki, adalah masa-masa milik kita yang berharga. Masa muda di mana gairah, kekuatan fisik, pikir kita berada pada puncaknya. Masa keemasan, masa kegilaan. Pagi yang segar, hingga layu di akhir hari. Our prime precious time. Sesuatu yang sungguh hanya sekali pakai saja. Over when it’s over. Saat terbaik yang sebenarnya bisa kita gunakan untuk suatu hal yang paling kita cintai, sebelum pada suatu saat yang tidak kita nyana-nyana, our time is up, and nothing we can do about anything, no more.
Tempat kerja atau arena kita berkarir adalah pressure zone. Where almost all burdens are piling up. Saya kira apapun pekerjaan kita, hampir
sama. Entah itu tekanan dari klien, atasan, rekan kerja, target, deadline, kebutuhan, external disturbance atau ambisi pribadi. Jadi kurang lebih di tempat kerja, semua potensi terbaik kita termasuk waktu dan emosi, kita berikan. Diperas sedemikian rupa, sampai terkadang tak tersisa. Pulang dengan gontai, lemas, capek, tak jarang pusing tentang beban pekerjaan hari esok. Adegan indah di paragraf pertama bagaikan bulan yang dirindukan yang si pungguk saja. Instead of rushing home to share bunch of joys with danny boy, people desperate to be at home soon to get some rest, or at somewhere else to get some consolations. Setiap minggu malam seperti mau kiamat saja, and they put the blame on the day after, they hate Monday as if it’s a soul sucker monster.
But that’s not what we have here, Jim! Kami tidak inginkan hal itu terjadi di tempat kerja kami. Adalah kekeluargaan, asas yang selalu kami tekankan kepada teman-teman yang baru bergabung di ECC UGM. We’d like to make our office as homey as Homer Simpson could ever ask. Jangan heran kalau in a sudden, out of nothing, burst of laugh terdengar lantang di kantor kami, sampai-sampai daun-daun pohon beringin depan kantor berguguran. We throw childish banter to each other whenever possible. Kadang-kadang sebagian kami merasa telah disedot oleh blackhole atau wormhole dan dilemparkan kembali ke bangku-bangku kelas kami semasa SMP. Cannot say it’s not fun. Tapi ketika melihat gambar besarnya, when you literally zoom the view out, di tengah-tengah lautan tawa, ada segolongan orang yang tak terkesan sama sekali. Dengan headphone ala disco 88 /*now I sound so old, do I not ?/*, wajah mereka tak berubah sedikitpun, memandang tajam pada layar laptop mereka, seakan-akan laptop mereka telah merebut kekasih hati yang tidak pernah mereka punyai. Hahah, IT support guys we are proud of, the swevel lads. To see their stone cold face in such moment is priceless. We feel you, brothers.
There’s mountain, there’s sea. There’s laughter, there’s tear. Wajar sekali dalam interaksi kami pun terjadi sedikit gesekan-gesekan interpersonal yang harus diselesaikan dengan air mata. Tapi ya selesai, finish, period, tamat, the end, rampung, entek, tek tung. Air mata justru menunjukkan betapa ada ikatan emosi yang kuat di antara kami. Dan untuk melayani ribuan perusahaan plus puluhan ribu rekan-rekan pencari kerja, not to mention other stakeholders such as university and government, kita sangat butuh ikatan itu, we used to call it kesatuan hati.
That being said, kami berharap sepulangnya kami dari pekerjaan, bukan hanya lelah yang kami bawa. But we also bring joy to behold and to be told, satisfaction, good soul, cup of kindness, bahan bakar
yang cukup untuk mengembangkan senyum tulus kami kepada keluarga kami di rumah. Just like mommy hen bring the worm spaghetti for babies chickling.
Rasanya tidak ada lembaga/perusahaan/kantor yang mengadakan acara family gathering dan makan-makan sesering kami, so often we should apply such record to MURI so we can display it in our living room, and stare the certificate with full of proud and pride >,< . Suasana kantor yang senyaman mungkin adalah yang kami inginkan. Saking kerasannya di kantor, teman-teman sepertinya suka sekali lembur dan mejanya berantakan, hahah. “Wes jaaannn, bocah-bocah ora pati nggenah“, jerit batin Pak Toro.
So, professional to clients, compassionate to partners. Don’t we, guys? ^^
