Ordinary Obituary for Oblivious

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un

Photograph by M. Isnainto

It was rather sadder-day than Saturday, when the sun so shiny shone, yet couldn’t solace a sad shy son. Di hari, yang seharusnya, menjadi hari kejayaan kami, hari kedua CD UGM IX, event kebanggaan kami di mana perusahaan dan para calon karyawan berjubel di arena yang kami sediakan, kami harus kehilangan orang tua yang kami sayangi, Ibu Hj Wasimah ( Ibunda saudara kami Advian Wahdi, Wakil Direktur Operasinal ECC dan juga yang mengomandani teknis pelaksanaan Career Days sejak yang pertama dulu) . Semoga Allah terima segenap amalnya, ampuni setiap dosanya, lapangkan kuburnya, dan mudahkan jalannya menuju tempat terbaik di surga-Nya. Amin.

Bagi kami keluarga ECC yang mengenal Almarhumah, beruntung pernah bersilahturahmi dan berjumpa dengan Almarhumah, tidak sedikitpun ada kesan yang tidak mengenakkan tentang beliau. Pribadi yang sederhana, santun dan semeleh *maaf saya tidak berhasil menemukan padanan katanya yang pas dalam Bahasa Indonesia. Dan yang demikian itu sungguh memberi arti pada kata kehilangan. However, sungguh melegakan kami bahwa di saat-saat terakhir beliau, banyak tanda-tanda bahwa beliau wafat dalam keadaan khusnul khotimah. Semoga Allah kehendaki demikian. Amin.

Even though now  time and tears are going by, still many things are left for us to cry about, smile about, and most of all, to think about. Timing is never our strength really. Hari-hari di mana kami bergelut, berjibaku, berpikir keras, sibuk sekali demi suksesnya event akbar ini seringkali membuat kita lalai. We thought we’re invincible, unbreakable, and immortal. Dan semua potensi tenaga, pikiran dan jiwa kami, kami curahkan ke situ, karena kami merasa itulah yang terpenting, bahkan seringkali mengalahkan kewajiban dan kesiapan rohaniah. In fact, semua itu sama sekali tidak berarti lagi ketika sang maut menghampiri, dan yang carries on hanyalah spirit atau rohaniah kita. Jasadi dan duniawi terputus semua pada saat itu. Keluarga, karir, kekayaan, kekuasaan, semua kebanggaan itu gone in seconds. And for time’s sake, we really don’t know when the death will come to us, could be couple seconds to go. Could be now. Who knows?

Pun ketika saya kembali dari melayat sore itu ke arena Career Days, saya jumpai wajah-wajah lelah teman-teman yang bergelut seharian, berpeluh-peluh, demi cita-cita karir mereka. Walaupun sungguh Career Days kami adakan dengan niatan untuk mempermudah semua pihak, tapi kenyataannya semua tidak semudah di angan. Sekali lagi, thought popped up into mind, tentang apa yang sebenarnya paling penting dalam hidup kita ini? Ketika semua yang kita usahakan dengan keras, siang malam, semua hal yang kita cintai, semua hal yang untuknya semua waktu dan pikiran kita berikan, dapat hilang sewaktu-waktu yang kita tidak tahu , direnggut sang maut.

Orang-orang pintar terdahulu, jaman klasik pertengahan yang kemudian disambung renaissance, membagi orientasi hidup menjadi dua saja, carpediem dan momento mori. Jadi kalau anda tidak momento mori ya carpediem, demikian juga sebaliknya, kalau tidak carpediem ya momento mori. Atau kalau bahasa populer saat ini, orientasi dunia atau orientasi akherat. Dan batasnya setipis itu saja, ingatkah kita bahwa kita ada date with death? Karena suka atau tidak, mau atau tidak, mati tak pernah ingkar janji. Dan diorientasikan atau tidak, sesungguhnya sang kala, detik ini juga dan seterusnya sedang menyeret kita ke akherat.

Lha terus, nggak usah cari kerja saja nih? T.T  Lha, kalau mau hidup ya cari makan ya ^^ . Tapi kalau sudah makan, sudah hidup, terus sisa waktumu dan hartamu mau digunakan untuk apa? Carpediem or Momento Mori?

Lha kalau waktunya dan hartanya nggak ada sisanya piyeWell, nggak Carpediem dan nggak Momento Mori maka menurut saya, maaf, hakekatnya anda sudah tidak begitu hidup lagi.

Anyone thinks death is the worst thing could ever happen to him, is never really happy in his life.

About joel

Bima Ardhitya, ECC's External Dept. Head

One Comment

  • 26 Jul 2011 | Permalink | Reply

    inalillahi wa ina ilaihi rojiun
    turut berduka bagi mas ian dan keluarga atas sepeninggal ibu wasimah, mungkin diantara teman2 ecc, saya yang kebetulan mengenal beliau lebih dekat. semasa hidupnya sangat sederhana sekali. tutur kata dan nasihatnya enak didengar.

    Suatu saat setelah kewajiban terakhir kepada anaknya telah selesai beliau tunaikan. (dalam hal ini menikahkan advian dgn mb umi). saya bertanya pada beliau, “pripun bu, pun khatam nggih kewajibanipun kalihan anak2″ , beliau menjawab, “alhamdulillah mas isnan, saiki garek cepak2 nyemelehke aku dhewe.”. masyaallah beliau yang tiap harinya tak pernah lepas dari sholat malam, masih saja merasa harus terus dan terus dalam persiapannya menuju kampung akhirat.

    satu lagi yang masih kuingat senyum lepasnya saat ijab Qobul advian-umi terlaksana dengan baik.

    dan makasih bu atas wedang jambu biji sing agek wae aku reti nek jebule ono yoan omben omben koyo ngono yoh nang indonesia. yo nang omah kauman kuwi yoan aku enthuk e..

    regards

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *