<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ECC&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog</link>
	<description>Blog from inside ECC&#039;s office</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Oct 2012 07:07:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Its a Blessed, Its a Job. Its a Blessed Job</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=692</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=692#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2012 06:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediacrew</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Heeyaaa, saya menulis lagi! Dan kali pertama menyumbang untuk blog ini. Setelah diberi kewenangan untuk boleh menulis dan meramaikan blog milik ECC UGM baru akhirnya tergerak untuk menyumbang opini. *kewenangan kan berarti hak untuk boleh dan tidak bukan? :p Berbincang soal karir, ide pertama yang berkelebat di benak saya dulu sebagai pelajar ABG yang masih punya ratusan energi namun minim pengalaman (*emg skrg banyak pengalaman? *enggak juga sih.. *abaikan) adalah &#8220;Bekerja di perusahan besar, kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Heeyaaa, saya menulis lagi! Dan kali pertama menyumbang untuk blog ini. Setelah diberi kewenangan untuk boleh menulis dan meramaikan blog milik ECC UGM baru akhirnya tergerak untuk menyumbang opini. *<em>kewenangan kan berarti hak untuk boleh dan tidak bukan? :p</em></p>
<p>Berbincang soal karir, ide pertama yang berkelebat di benak saya dulu sebagai pelajar ABG yang masih punya ratusan energi namun minim pengalaman <em>(*emg skrg banyak pengalaman? *enggak juga sih.. *abaikan)</em> adalah &#8220;Bekerja di perusahan besar, kota besar, jadi bos dengan ijazah S1,&#8221;. Jakartasentris adalah acuan saya seperti juga sebagian besar rekan pada waktu itu. Lulus kuliah, merantau ke jakarta, dapat pekerjaan, kerja setengah mati, dan dapat gaji besar, pulang kampung, bangga, traktir sana-sini, eh duit habis balik lagi ke jakarta, kerja, dst.</p>
<p>Tapi nyatanya, lulus kuliah aja saya telat untung nggak pake acara DO. Jadi secara administratif saya adalah lulusan muda yang sudah setengah tua. Meskipun selama kuliah saya mencoba mencari pengalaman dari beberapa perusahaan yang membutuhkan tenaga parttime. Tapi, mencari pekerjaan dengan modal ijazah itu ternyata berbeda. Ada gengsi yang dipertaruhkan, ada harapan, dan ekspektasi yang dulu pada saat bekerja parttime tidaklah terlampau penting. Maka berhadapanlah saya dengan realitas khas lulusan muda *yang sudah setengah tua* akan bekerja dimanakah saya? Akan bekerja sebagai apakah saya?</p>
<p>Entah dari mana awalnya, tp sejak lama saya seorang pemikir yang sensitif. Ketika melakukan sesuatu apapun seringkali saya bercakap dengan diri sendiri melalui banyak pertanyaan &#8220;Mengapa kamu melakukan ini?&#8221; &#8220;Apa manfaatnya?&#8221; &#8220;Apakah sudah benar yang kamu lakukan?&#8221; &#8220;Apakah sudah cukup baik?&#8221; dst.</p>
<p>Termasuk ketika suatu kali saya bekerja di restaurant cepat saji, menghadapi mesin kasir saya melihat banyak sekali orang Indonesia yang merasa &#8220;puas&#8221; membelanjakan uangnya disana. Seperti ini makanan mahal, mewah, dan eksklusif. Padahal, ini hanya ayam, ini hanya roti isi daging yang harganya berkali lipat dari bahan mentahnya, yang kandungan gizinya dipertanyakan, yang rasanya sebenarnya tidak jauh lebih lezat dari masakan ibu sendiri.</p>
<p>Tapi saya tahu perasaaan mereka, saya dulu juga begitu, ibu saya mungkin juga begitu. Membelanjakan uangnya sebulan sekali setelah gajian untuk membeli makanan cepat saji yang itu. Rasa makanan itu menjadi lezat bukan karena memang rasanya tapi karena nilai dari perjuangan mendapatkannya. Itulah yang membuatnya menjadi beda.</p>
<p>Namun akhirnya saya memutuskan keluar dari restoran cepat saji itu. Kenapa? Satu, saya sadar bahwa produk yang saya tawarkan bukan produk yang sehat. Dua, karena itu saya tahu bahwa nilai &#8220;pencapaian&#8221; mereka tidak seharusnya dibayarkan untuk itu. Idealisme saya terusik, saya tidak ingin menyaksikan orang-orang yang bekerja susah payah hanya untuk membeli &#8216;kemewahan&#8217; itu. Kalaupun saya tidak mampu mengubahnya, setidaknya saya tidak melihatnya secara langsung apalagi menjadikannya sumber pendapatan.</p>
<p>Kemudian suatu waktu saya bekerja menjadi reporter di satu media yang membidik masyarakat sosial menengah ke bawah. Awalnya semua tampak baik-baik saja, yah saya toh memang sudah jadi reporter pada tahun belakangan. Tugasnya sudah hafal narasumber juga sudah bisa ditekuni.</p>
<p>Sampai tiba satu titik, ketika saya disodorkan tema yang harus saya tulis. Saya tercengang pada hasil diskusi dengan seorang editor. Saya menemukan kenyataan yang berbeda dari kerangka pengetahuan saya mengenai bagaimana seharusnya media itu bergerak. Media adalah sarana penting yang seharusnya turut membangun informasi yang bisa memberikan tambahan wawasan, wacana, atau pengetahuan yang tepat bagi pembacanya. Bukan menenggelamkan atau dengan sengaja meracuni pembaca dengan tulisan yang mengedepankan sensasional.</p>
<p>Meski sempat membuat beberapa tulisan yang disodorkan oleh si editor, saya pun akhirnya memutuskan keluar. Idealisme saya dengan media yang menaungi saya menjadi pemicunya, kami jelas berdiri berlawanan arah. Lagi-lagi, saya memutuskan untuk tidak lagi terlibat di dalam penyebaran informasi yang menyalahi hati nurani saya.</p>
<p>Intinya, bagi saya bekerja bukan sekedar mencari pendapatan. Ada faktor lain dan itu adalah kenyamanan bekerja. Bagi saya kenyamanan bekerja, kebebasan berpikir, berkreasi, dan bertumbuh menjadi faktor penting yang membuat saya memutuskan bertahan di satu tempat. Bekerja bukan sekedar menghasilkan pendapatan secara materi namun juga sebuah kepuasan. Kepuasan dalam bekerja, berkarya, dan InsyaAllah menghasilkan manfaat bagi orang lain itulah yang kemudian menjadi sebuah pekerjaan menjadi nikmat, deadline menjadi sedap, dan hidup tak lagi hanya putih abu-abu. <strong>It&#8217;s a blessed, it&#8217;s a job, It&#8217;s a blessed job</strong> <img src='http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=692</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shine Spreading Spirit</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=612</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=612#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Oct 2012 08:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Balik Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[Everyone is entitled to his/her own perspective. This year, the world expect to welcoming it&#8217;s 7th billion citizen of human race. Ergo, there&#8217;ll be 7 billion ways to see this life. Dan demikianlah kita menjalani hidup kita, bertingkah laku, bersikap, sedih dan gembira, malas dan bersemangat, marah dan sabar, sesuai dengan bagaimana kita memandang hidup ini. Apa motivasi kita? Apa niatan kita? Apa akhir yang kita kehendaki? Tanpa kita sadari, setiap kata yang kita ucapkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Everyone is entitled to his/her own perspective. This year, the world expect to welcoming it&#8217;s 7th billion citizen of human race. Ergo, there&#8217;ll be 7 billion ways to see this life</em>. Dan demikianlah kita menjalani hidup kita, bertingkah laku, bersikap, sedih dan gembira, malas dan bersemangat, marah dan sabar, sesuai dengan bagaimana kita memandang hidup ini. Apa motivasi kita? Apa niatan kita? Apa akhir yang kita kehendaki? Tanpa kita sadari, setiap kata yang kita ucapkan, senyum yang kita sebarkan, bahkan sorot mata yang kita pancarkan,<em> tweet</em> yang kita <em>tweet</em>-kan, <em>sliding tackle</em> yang kita lakukan, <em>all driven by how we see life</em>. <em>Our soul, our spirit</em> */ wah, berat, berat &gt;,&lt;&#8217; */. <em>However</em>, dari bermilyar-milyar perspektif itu, sebenarnya bisa digolongkan menjadi dua saja. Dua jalan berlawanan yang menuju dua akhir yang sangat kontras. Bahagia dan celaka. */ <em>this is when the sound &#8216;jreeeeenngggg&#8217; used to fill in, the screen freeze, fading out, and the commercial breaking in</em> */</p>
<p>Semua hal di dunia diciptakan berpasang-pasangan, <em>or in opposite perspective,</em> bermusuh-musuhan. Baik dan buruk, benar dan salah, hidup dan mati, laki-laki dan perempuan, bumi dan langit, positif dan negatif, sinonim dan antonim,hitam dan putih, <em>angel and demon</em>, <em>tom and jerry</em>,  jin dan jun, cicak dan buaya */<em> oh wait</em> .. */. <em>You know you can hardly argue with that</em>. Tidak setelah para fisikawan terkemuka di <a href="www.cern.ch">CERN</a> menemukan <a href="en.wikipedia.org/wiki/Antimatter">anti materi</a>. <em>Which basically tell you lot, that for every matter there&#8217;s anti matter</em>. Demikian juga dengan cara kita memandang dan menjalani hidup kita, yang mewujud dalam setiap perkataan, sikap dan perbuatan kita. <em>It&#8217;s either positive or negative. Angels&#8217; way or demons&#8217; way. Good or bad. Helpful or harmful. Some will disagree and scream, it&#8217;s not that simple</em>. Tentu saja, tapi itu di dataran prakteknya. Sedangkan <em>value </em>nya selalu sesimple itu. Orang-orang tidak perlu diajari tentang mana yang baik dan mana yang buruk. <em>Naturally</em>, kita sudah tahu itu. Hal yang membuat rumit adalah di dataran praktek kita bertabrakan dengan kepentingan dan keinginan. Sehingga seakan-akan ada abu-abu di antara hitam dan putih. <em>But, come on, righteousness is an absolute notion. Honesty of heart cannot be less than 100%. As they say, a half truth is a whole lie</em>. */ <em>jreeeeengggg</em> */</p>
<p>ECC UGM dimulai dengan perspektif yang positif <em>and the value of good, we wish</em>.<em> Exactly as how we see this life, we wish</em>. Dan itu yang mendasari semua langkah-langkah kami, baik yang strategis maupun yang tragis, <em>we wish</em>. Juga pertimbangan utama kami ketika hendak memutuskan sesuatu atau mereaksi, <em>we wish</em>.<em> It&#8217;s not like we wish &#8216;we wish&#8217; with &#8216; &#8216; , you know</em> ?! Sama sekali bukan <em>in sarcasm manner</em>. Kami benar-benar senantiasa berharap dan selalu berdoa bahwa kami di jalan yang lurus sesuai dengan <em>value</em> yang kami anut. Karena memang jalan kebaikan yang lurus seringkali dibungkus dengan kesusahan-kesusahan, sebaliknya jalan yang menyimpang seakan-akan penuh dengan kenikmatan-kenikmatan. <em>It&#8217;s never easy, but then again it pulls out your character</em>.  <em>And we all know where our character drive us into. As they say, character breeds destiny</em>. */<em>jruuuuwwweeeennggggggg</em>*/ **// <em>Alrite, this is getting annoying, I know</em> **//</p>
<p><em><a rel="attachment wp-att-678" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=678"><img class="aligncenter size-full wp-image-678" title="Shine" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/10/Shine1.jpg" alt="" width="694" height="490" /></a>We choose the angels&#8217; way, but we&#8217;re no angel</em>. &#8216;Mas-mas&#8217; yang mengawali usaha kecil-kecilan ini saja, masih harus susah payah menjaga dan menghidupkan <em>value</em> ini. Belum lagi harus mentransfer kepada teman-teman yang baru bergabung. Sementara kian hari kepercayaan kepada kami semakin tinggi yang otomatis, semakin berat juga tugas dan tanggung jawab kami.<em> In the process</em>, <em>we erred sometime</em>. <em>Sometime professionally, and sometime we failed our value internally</em>. Kami tidak bangga dengan hal itu. <em>To err is human though. What distinguish one from the others is how he respond to his mistake. There&#8217;s actually a reason for a word called &#8216;responsibility&#8217;</em>. Respon pertama yang paling penting setelah kita berbuat salah adalah menyadari dan mengakui kesalahan. Baru dengan begitu terbentang jalan-jalan perbaikan. <em>We believe</em>, tidak ada kesalahan yang sedemikian fatalnya, sehingga kita tidak bisa memperbaikinya, selama kita dengan besar hati mau mengakuinya dan selama kita masih hidup tentu saja. <em>As they say, forgiveness breeds future</em>. <em>Naahh, that&#8217;s what I say, and I&#8217;m not gonna &#8216;jreeenggg&#8217; that</em>.</p>
<p><em>The thing is</em>, kami sampai sejauh ini, jumlah perusahaan yang memberikan kepercayaan semakin banyak, demikian juga rekan-rekan calon karyawan yang menaruh harapan pada layanan kami, semua itu kami pandang sebagai kasih sayang Ilahi, dan tak terbersit untuk mempertahankan  dan meningkatkannya dengan cara-cara yang mengundang murka-Nya. <em> Good value</em>. Bahkan kami berusaha untuk lebih menyenangkan Nya lagi. <em>Even better value</em>. <em>Ritual is of course one thing, and personal</em>. Selebihnya kami berusaha untuk membuat itu wujud dalam keseharian kami, saat kami mengemban kepercayaan dan harapan. Dalam setiap ucapan, tindakan dan keputusan kami, untuk semua itu, pertimbangan utamanya adalah<em> to serve Him</em>. <em>Wise man says, as to swim is fish nature and to fly is bird nature, to serve is human nature</em>.*/<em> jreengg nggak ya ni</em>? &gt;,&lt;&#8217; */</p>
<p>Dalam ranah kerja kami, melayani adalah nafas kami sehari-hari. Karena memang usaha kecil-kecilan ini adalah usaha pelayanan. Kami melayani perusahaan, rekan-rekan pencari kerja, hingga pihak akademik yang membutuhkan data dan masukan.  Dan begitulah perspektif kami memandangnya, bahwa semua pelayanan ini dalam rangka mewujudkan <em>value of good</em> yang kami anut. Sedangkan imbas finansial itu selalu kami tekankan hanya keperluan, bukan tujuan atau motivasi. Dalam perspektif ini, sekali kami menjadikan materi sebagai tujuan, cepat atau lambat kami pasti akan gagal dan terpecah-belah. Dengan spirit untuk melayani inilah kami bisa melalui berbagai macam masalah dengan sikap yang positif. Pada saat semakin banyaknya pihak yang kita layani, tentu saja semakin susah memuaskan semuanya. Ketika orang tidak puas, dia bisa bersabar, maklum dan bahkan memberi masukan.<em> Otherwise</em>, <em>complaining</em>. Hari ini, komplain menjadi <em>trend</em>, terutama dengan merebaknya <em>social media</em> yang demikian <em>accessible</em>, <em>any time any where through your cell. Everyone wants to be the centre of the universe, and has everything on earth to moan about</em>. Akhirnya, komplain dibalas komplain, ada apa-apa sedikit, komplain, <em>people tend to hurt each other rather than to elaborate and solve the problem</em>. <em>And now I&#8217;m complaining people who complain other people who complain him for complaining</em> &gt;,&lt;&#8217; */ <em>no jreengg</em> */</p>
<p>Bukan berarti orang-orang tidak berhak komplain. <em>Everyone has the right to complain for any kind of discomfort he experiences</em>. Hanyasanya, <em>we encourage ourself</em>, untuk tidak merespon komplain dengan komplain juga meskipun kami pun <em>entitled</em>. Entah itu kepada vendor kami, atau kepada staff  atau tim kami yang bersangkutan dan lain-lain. Orang menyebutnya komplain karena tidak enak didengar. Walaupun seringkali dengan begitu masalahnya akan segera ditindaklanjuti, tapi akan ada bekas di hati yang tidak hilang begitu saja. Kadang-kadang dengan bahasa yang lebih baik maka &#8216;komplain&#8217; berubah menjadi &#8216;saran&#8217; yang output teknisnya sama tanpa meninggalkan <em>hard feeling</em>. Kekuatan untuk menerima komplain <em>without intention to wreak it to anyone else</em>, adalah salah satu karakter yang ingin kami wujudkan. <em>Problem solver, not vice versa, problem maker/amplifier/moaner</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>That&#8217;s all being spoken</em>, tidak ada kekhawatiran yang demikian berat tentang apapun di sini. <em>Whatever will come, will come, and we&#8217;ll serve</em>. <em>Simple as that</em>. Tidak khawatir dengan semakin banyaknya <em>career center</em> di mana-mana? Jika insentif atau popularitas yang menjadi <em>concern</em> kami , tentu saja kami khawatir dengan adanya kompetitor. <em>Fortunately, it&#8217;s not</em>. Semakin banyak yang melayani, semakin bagus bukan? Apakah nanti perusahaan tidak bingung dengan banyaknya lembaga serupa? Kalau semuanya bagus <em>ndak papa-papa kan</em>. Bingung sama bagusnya <em>won&#8217;t hurt</em> ^^. Kalau ada yang bagus ada yang <em>ndak</em>, di mana bingungnya? Tinggal mau pilih yang bagus atau yang <em>ndak</em>. Kalaupun nanti kami tidak bisa menjadi <em>career center</em> lagi karena ada yang lebih <em>center</em>, <em>let&#8217;s just call it career cuuweeeennnterrr</em>, saking <em>center</em>nya, kami tidak keberatan untuk minggir ke pojok dan menjadi <em>career corner</em>. <em>The thing is, we&#8217;ll serve !! or die trying */ </em>pasang kaca mata <em>riben </em>sambil gigit batang korek <em>jresss</em> */</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=612</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tight Spot to Grin</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=588</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=588#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2012 04:32:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Balik Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[There&#8217;s always a smile monster inside everyone, screaming, shaking, bouncing, kicking, hankering to come out, to make some peculiar and disgraceful face of it&#8217;s gloomy master. In a sole fortunate moment, a mirror might give him a bit favour. Beberapa orang mengekangnya demikian erat, hingga kalau ada satu kata yang pas untuk menggambarkan wajahnya adalah kram. Spesies seperti ini, menurut pengalaman saya, banyak ditemui di daerah-daerah dengan tekanan kerja yang tinggi. Di sarana-sarana transportasi umum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a rel="attachment wp-att-599" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=599"><img class="alignleft size-medium wp-image-599" title="P1000657r" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/10/P1000657r-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a>There&#8217;s always a smile monster inside everyone, screaming, shaking, bouncing, kicking, hankering to come out, to make some peculiar and disgraceful face of it&#8217;s gloomy master. In a sole fortunate moment, a mirror might give him a bit favour</em>. Beberapa orang mengekangnya demikian erat, hingga kalau ada satu kata yang pas untuk menggambarkan wajahnya adalah kram. Spesies seperti ini, menurut pengalaman saya, banyak ditemui di daerah-daerah dengan tekanan kerja yang tinggi. Di sarana-sarana transportasi umum di metropolitan, misalnya. Seakan-akan ada perda yang mengatur senyum tanpa alasan di ruang publik. <em>Something sounds like</em>, senyum lapor rt/rw atau pejabat setempat yang berwenang. <em>However</em>, ada beberapa yang lain, yang mengumbar bebas sang monster, dan tidak bisa melepaskan senyum dari wajahnya. <em>In some extend</em>, <em>they make Teletubbies look like Vlad Dracul with their shiny smiley faces</em>.</p>
<p>&#8211; <em>meanwhile</em> &#8212; */ [insert] : gambar burung-burung terbang di antara awan-awan berarak */</p>
<p>Ada <em>draft post</em> di bawah tulisan saya ini, ditulis oleh seorang oknum direktur perusahaan IT yang sedang berkembang, dengan inisial AS. <em>I can tell you this man is very busy just like any other chief is. So busy so he doesn&#8217;t even have time to put busy mark on his any messenger line</em>. Apalagi menulis blog untuk <em>ngerasanin</em> orang yang sibuk */ <em>as certain someone we know</em> &gt;,&lt; */. <em>Anyway</em>, <em>this direktur guy</em>, beliau menulis <em>random meaningless letters</em>. <em>What&#8217;s he doing exactly</em>? Ada banyak skenario penjelasan yang masuk akal. Dari teori konspirasi sampai teori evolusi. Tapi demi mempertahankan status blogger musiman yang <em>awur-awuran</em>, dan reputasi blog ini sendiri agar tetap <em>unofficial</em>,  <em>I&#8217;ll go with chaos theory</em>. Penjelasan paling lugu adalah, beliau stres dengan pekerjaannya, kemudian ingin curhat di blog yang dulu dimulainya. Ternyata setelah melihat post-post yang lain yang ditulis oleh <em>certain someone</em>, <em>our mysterious guys</em>, beliau malah tambah stress. <em>Hence, that random typing</em>. Semoga skenario itu cukup <em>chaos</em>, sesuai yang disesumbarkan. <em>Chaos chambal, hayyah</em> &gt;,&lt;&#8217; */ <em>now, now that&#8217;s as chaos as can be</em> */</p>
<p><em>Oh well, we can say</em> blog ini, <em>by far</em>, <em>without a doubt</em>, <em>is the most insignificant part of our beloved site of ecc.ft.ugm.ac.id</em>. Walaupun <a rel="attachment wp-att-600" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=600"><img class="alignright size-medium wp-image-600" title="Screenshot_2012-10-01-14-26-51" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/10/Screenshot_2012-10-01-14-26-51-300x175.png" alt="" width="300" height="175" /></a>demikian tidak bisa dikatakan isinya sangat menarik */<em> sarcasm in disguise</em> */. Dan walaupun responnya sangat minim, bukan berarti yang <em>mbaca</em> banyak. Dan walaupun yang menulis itu-itu saja, tidak otomatis membuatnya menjadi tidak membosankan. <em>See, now we can all understand The Chief frustation</em>.</p>
<p>Kita mempunyai tim media <em>consist of quality writers down here</em>. <em>Yet we fail to encourage them to have their shots here. But hey, even an Ernest Hemmingway would loss words here due to the level of the chao</em>s */ <em>read : random wild thoughts of a total scattered brain soliloquizing</em> */. <em>Can&#8217;t help the guilty feeling. Lha piye meneh? Somebody must fill the void. And here we are now. Let us just take it this way, this career thingies, they are getting too serious, dontcha think? And that cannot be good</em>. Bagaimana dengan monster senyum */ mulai saat ini akan disebut monyum */ yang terus memberontak ingin keluar. <em>This world need smile, and this site is no exception</em>. <em>So, this blog is about relaxing, smiling and chaosing at the same time</em>. Hitung-hitung sambil menunggu ruang rekreasi kami yang hingga kini masih dalam tahap &#8216;mudah-mudahan bisa terealisasi&#8217;.</p>
<p>Suatu ketika dulu, saya yakin saya membaca di mana gitu */ <em>not even bothered to googling it</em> ^^v */ , bahwa 80% ilham akan ide cemerlang datang saat kita santai, relax, tidak banyak pikiran dan lebih banyak tersenyum. <em>Of course, we don&#8217;t need to argue about this, since I didn&#8217;t even bring any reliable resource to begin with</em> &gt;,&lt;&#8217;.  Einstein sedang bekerja di kantor pos saat mendapat ilham tentang teori relitivitas, Newton sedang main lempar-lempar buah manggis saat tercerahkan dengan gravitasi */ <em>I know, I got the fruit wrong, but there&#8217;s some concern I&#8217;ll be in patent court within second if I named the Newtons&#8217; fruit right</em> */ . Belum lagi banyak serendipities, penemuan-penemuan besar yang merubah dunia, yang datang dengan tidak sengaja. <em>Pasteurs&#8217; peniciline, to name one of them</em>. Dan dari blog sederhana ini, bukan bermaksud menyombong, walaupun kelihatannya hanya seperti ini, sampai sekarang belum pernah tercetus ide yang cemerlang */ pasang kaca mata hitam, kacak pinggang */</p>
<p><em>One thing I can tell you</em>, ketika anda menulis dan tersenyum, sebenarnya anda sendirilah yang mendapatkan manfaat yang terbesar. Jadi walaupun blog ini sepi dari tanggapan, <em>one day, couple years from now</em>, saya buka halaman ini lagi and <em>get that such invaluable yet inexplainable feeling</em> <em>and smiling</em>. Sepuluh tahun lagi saya buka lagi pojokan sepi ini, <em>somehow I&#8217;m sure the feeling will be even greater</em>. <em>You know, just the same feeling when you open your old writing/poem/picture. It&#8217;s a time machine, and more than that, a tight spot to grin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=588</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>EID : The Absolute Absolution</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=506</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=506#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Aug 2012 02:59:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Balik Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[To forgive is perfect revenge, and to improve is perfect surrender. Kadang-kadang tidak ada kata-kata yang lebih pas untuk menggambarkan sesuatu hal selain dengan paradoks. Terutama hal-hal yang abstrak sentimentil, seperti kesedihan, kebahagiaan, kesempurnaan, kesuksesan, mood dan lain sebagainya. Karena memang entitas bernama perasaan atau hati nurani itu arguably lebih luas, lebih dalam, dan lebih kuat dari apa yang words could ever cope with. Or even logic could ever comprehend, dare I say.  Dan hati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a rel="attachment wp-att-514" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=514"><img class="alignleft size-medium wp-image-514" title="2012 - 1" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/08/2012-11-242x300.jpg" alt="" width="242" height="300" /></a>To forgive is perfect revenge, and to improve is perfect surrender</em>. Kadang-kadang tidak ada kata-kata yang lebih pas untuk menggambarkan sesuatu hal selain dengan paradoks. Terutama hal-hal yang abstrak sentimentil, seperti kesedihan, kebahagiaan, kesempurnaan, kesuksesan, mood dan lain sebagainya. Karena memang entitas bernama perasaan atau hati nurani itu <em>arguably</em> lebih luas, lebih dalam, dan lebih kuat dari apa yang <em>words could ever cope with</em>. <em>Or even logic could ever comprehend, dare I say</em>.  Dan hati nurani kita lah yang <em>define what/who we are, eventually, not our words, nor our logic.</em> */<em> iki ngomong opo toh paklek ?</em> &gt;,&lt;&#8217; */</p>
<p>Hati nurani, jiwa, perasaan, naluri, human nature,<em> conscience, fitroh, you name it</em>. Ada yang menggambarkan hati kita ini awalnya seperti kaca yang bening. Di kaca yang bening kita bisa melihat bayangan benda dengan jelas, sebagaimana aslinya. Seperti proyeksi  pada cermin datar maka bayangannya maya, tegak, sama besar, jarak = fokus  &gt;,&lt;&#8217; .  Sebaliknya apabila kaca itu kotor, maka kita tidak akan bisa melihat bayangan benda dengan jelas.  <em>When we see the things right, we tend to act/react right. And we act/react right, we feel alright. When we feel alright, all is bright. After all, is there anything better in this life than feeling alright? How many people were willing to die fighting what they felt wrong about? Let alone to tweet and to update their social networks status.</em></p>
<p>Dalam hidup kita sehari-hari, <em>as I mentioned in my previous posts here</em>, di mana sebagian besar waktu dan potensi terbaik kita dihabiskan di lingkungan karir kita, mau tidak mau kaca bening kita akan kotor. Di tengah pergelutan kebutuhan, perintah atasan, order layanan, target pencapaian, bermacam cicilan, tagihan, sumbangan, iuran, dan arisan &gt;,&lt;&#8217; . Di tambah lagi gejolak nafsu */ <em>mew, sounds like late 90&#8242;s Indonesian movie</em> */,  betapa hausnya kita akan pengakuan, kekayaan, makanan, pakaian, kendaraan, bepergian etc. <em>And that&#8217;s all where the heart polution started</em>. Semua &#8220;an-an&#8221; itu secara tidak sadar menjadi tuan kita yang harus kita layani dan puaskan dengan segala cara. <em>The rest is common news we read in today&#8217;s papers</em>. Iri hati, sikut sana-sikut sini, <em>breading hatred</em>, ngerasanin buka-buka aib bahkan fitnah, main belakang, pembunuhan karakter, merasa lebih dari yang lain,<em> not to mention the physical violence conduct</em>. Bahkan kadang-kadang hanya karena salah paham saja, kita jadi musuh bebuyutan. Semua hal itu terjadi di tempat kerja kita dengan skala dan kompleksitas masing-masing. <em>Thus</em>, betapa kotornya hati kita.</p>
<p>Ada satu bulan dalam satu tahun, di mana hati kita dimanjakan. Seiring dengan beban pekerjaan yang berkurang, nafsu kita dikekang, kita punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal lain, in order to get alright feeling. Pembicaraan pun menjauh dari hiruk pikuk dunia yang membuat resah. Belum lagi kenikmatan menyantap konsumsi rohani yang melimpah. Kesibukkan kita berubah, dan senyum tulus dalam lapar kita merekah.  Permusuhan, persaingan luntur ditelan kesabaran dan ketenangan rohaniah. Khusyuk dalam kemakhlukan kita yang lemah. Hakekat hidup dalam nuansa yang syahdu indah. Ramadhan.</p>
<p>Bulan pembakaran dan pensucian inilah kesempatan kita untuk mendapati hati kita bening kembali. Membenarkan kembali sudut pandang kita akan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Keluarga, karir, hobi, dan lain-lain. Sehingga  <em>we&#8217;ll feel alright anytime anywhere</em>. Selepas Ramadhan, kita berlomba-lomba meminta maaf dan memaafkan, berlomba-lomba mengaku salah. <em>Any normal people would love such peaceful atmosphere. Why on earth we can&#8217;t have it all years? Well, at very least, now we know how to make it better worlds. Better us, firstly.</em></p>
<p><em>Taqobal ALLAH mina wa minkum</em>. <em>Very deeply humbly sorry for any kinda offending words I ever wrote here</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=506</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mobile Age : The World Within Your Hold</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=502</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=502#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2012 01:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Balik Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[When you cannot explain thing simply, then you don&#8217;t really understand it. When you cannot simplify this world, then you can never prevail it. Kadang-kadang, not to say most of the time, kita pandang sesuatu yang hebat itu harus rumit, didapat dengan cara yang sulit, melalui prosedur yang berbelit-belit, yang membuat perut tiba-tiba melilit, sehingga harus lari terbirit-birit, eh tak tahunya sembelit */ pardon my crispy prank &#62;,&#60; */. For my defence, I didn&#8217;t speak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>When you cannot explain thing simply, then you don&#8217;t really understand it. When you cannot simplify this world, then you can never prevail it.</em> Kadang-kadang, <em>not to say most of the time</em>, kita pandang sesuatu yang hebat itu harus rumit, didapat dengan cara yang sulit, melalui prosedur yang berbelit-belit, yang membuat perut tiba-tiba melilit, sehingga harus lari terbirit-birit, <em>eh</em> tak tahunya sembelit */ <em>pardon my crispy prank</em> &gt;,&lt; */. <em>For my defence, I didn&#8217;t speak a baseless balderdash. Go ask Mr. Bond! James Bond!</em> */ <em>here we go again</em> &gt;,&lt;&#8217; */. Semua musuhnya James Bond itu kalibernya <em>world class</em>. Semuanya ingin menguasai dunia. <em>However</em>, semuanya gagal, karena mereka terlalu fanatik, <em>over complicate things</em>, bahwa cita-cita spektakuler harus dicari dengan cara yang spektakuler juga. Semua <em>Bonds&#8217; foes</em> berusaha menguasai dunia dengan<em> spectacular way</em>, dengan berbagai macam<em> super weapon</em>, dari nuklir , <em>chemical</em>, <em>biological</em> sampai <em>psychological</em>. <em>They had never learned</em>, bahwa, <em>eventually Bond will win</em>, <em>just like every Bond&#8217;s girl end up at that pervert hotshots&#8217; hug</em>. <em>Simply because</em>, pada akhirnya kebenaran pasti akan menang. */ <em>nggaya sedakep kayak</em> James Bond */.</p>
<p>Dibandingkan dengan dunia, karir tentu saja jauh lebih kecil lagi. <em>Thus, if you want to prevail in your career, you have to make it simple <a rel="attachment wp-att-554" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=554"><img class="alignright size-medium wp-image-554" title="photo" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/07/photo-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>even more</em>.  Dan itulah yang ingin kami wujudkan melalui usaha kecil-kecilan kami ini. Bagaimana karir dan segala<a href="http://bahasa.kompasiana.com/2010/09/25/tetek-bengek/"> <em>tetek bengek</em></a> nya menjadi sederhana, mudah, kecil. <em>There were times</em>, saat orang harus &#8220;menjajakan diri&#8221; <em>door to door</em>, harus jauh-jauh melihat papan pengumuman di kampus (iya kalau ada, kalau <em>ndak</em>, ya balik lagi), harap-harap cemas menanti koran sabtu. <em>There were times</em>, orang mencari lowongan dari blog satu ke blog yang lain, mencari kontak perusahaan di internet. <em>And here we are now</em>, saat semuanya itu bisa diselesaikan dengan satu kotak elektronik kecil. Ada yang masih banyak tombolnya seperti mesin ketik, ada yang tinggal satu saja, ada yang <em>tunyuk-tunyuk</em> (baca: <em>touchscreen</em>) <em>ndak</em> ada tombolnya. <em>That&#8217;s the way it is now</em>. <em>We are not scaremongering</em>,<em> but mobile age is coming</em>, t<em>he world is mobiled</em> */ <em>if that&#8217;s even a word</em> */,<em> text/tweet for your life</em>! <em>Tweet, Forrest</em>! <em>Tweeettt</em>!!</p>
<p>Seorang penulis */ terutama yang amatiran, angin-anginan dan awur-awuran seperti penulis blog ini */, selalu punya tendensi untuk melebih-lebihkan sesuatu. Tetapi susah mencari kata yang berlebihan untuk menggambarkan bagaimana seluler telah menguasai dunia kita. <em>We&#8217;re living in the world where</em> : orang tertawa, senyum-senyum, marah, menangis, malu-malu pada <em>handphone</em>nya. Orang duduk main <em>handphone</em>, berdiri main <em>handphone</em>, naik sepeda main <em>handphone</em>, main bola di <em>handphone</em>, di kamar mandi main <em>handphone</em>, tidur sama <em>handphone</em>, mengusir nyamuk dengan aplikasi <em>handphone</em>, bangun tidur yang pertama dicari <em>handphone</em>, bahkan sembahyang sekalipun ada saja yang <em>tulat tulit handphone</em>nya. Kalau masih kurang, detik ini, <em>for some reason</em> */ <em>at least I hope</em> */, berjuta-juta orang sedang melempar-lempar kepala burung di <em>handphone</em>nya. <em>Words fail me</em>.</p>
<p>Semoga saya tidak membuat <em>image handphone</em> menjadi jahat, karena memang tidak begitu. Dunia dan seisinya ini netral, bisa menjadi manfaat, bisa juga menjadi jahat. Tergantung bagaimana kita mensikapi atau menggunakannya. Pisau di tangan dokter bedah dan pisau di tangan <a href="http://kamusbahasaindonesia.org/bramacorah">bramacorah</a>, misalnya. <em>Handphone</em> juga sama. Bila kita bisa menggunakannya dengan mengikuti hikmah kebijaksanaan, maka akan memberikan manfaat yang sangat besar. Sebaliknya jika yang diikuti adalah hawa nafsu, maka secara alami kita akan melampaui batas dan akan merugikan diri kita sendiri terutama, dan orang lain. <em>In this cas</em>e, w<em>ith the ease provided by information technology</em>, melamar pekerjaan menjadi begitu mudah, kapan saja dan di mana saja. Tidak banyak waktu yang terbuang seperti dahulu. Harapan kami, waktu yang terbuang dahulu itu, sekarang bisa digunakan untuk aktivitas-aktivitas yang bermanfaat.</p>
<p><em>Some says</em>, <em>along with struggle comes character</em>. Dulu orang memang harus berjuang lebih keras untuk dapat kerja. Tapi dengan begitu karakter mereka terbentuk, sehingga kualitas mereka meningkat, dan peluang mereka diterima kerja lebih besar. Sekarang dengan era kemudahan seluler, <em>struggle</em> nya hilang. Karakter kita pun tidak membaik. Seringkali penghargaan akan kesempatan sangat rendah. Misalnya dipanggil  tes tidak hadir tanpa keterangan. Ini adalah ekses yang tidak kita inginkan bersama. Waktu yang dulu habis untuk proses pencarian kerja, harapan kami bisa dialihkan untuk hal-hal yang memang bisa membentuk karakter teman-teman semua. Dan dari pengalaman kami, pembentukan karakter sangat efektif bila kita mau terjun bersosialisasi dalam suatu komunitas. Entah itu masyarakat, organisasi, atau lembaga-lembaga yang lain. <em>In other words</em>, <em>you need to leave your cell phone more often and interact with people around you, spread good words and deeds</em>. Diakui atau tidak, <em>handphone</em> memang mendekatkan yang jauh, tapi bersamaan dengan itu menjauhkan yang dekat.</p>
<p><em><a rel="attachment wp-att-567" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=567"><img class="alignleft size-medium wp-image-567" title="export_04" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/07/export_041-300x175.png" alt="" width="300" height="175" /></a>To sum it all, let&#8217;s make  them</em> ( <em>c://world/career/cell phone</em>) <em>small</em>. S<em>o we can easily grab them and throw them away whenever we want to</em>. Jangan sampai kita kebingungan saat ditanya &#8216; Sebenarnya kamu yang memiliki <em>hape</em>, atau <em>hape</em> yang memiliki kamu? &#8216; .  Jaman saya UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dulu, jawabannya E, semua salah. <em>Once we fail to make the world small</em>, <em>It will be us owned by the world</em>. <em>That cannot be good</em>. <em>Except for James Bond</em> &gt;,&lt;&#8217; .</p>
<p><em>So</em>, <em>with your own risk here we go. ecc ugms&#8217; mobile apps for android and blackberry</em> : http://ecc.ft.ugm.ac.id/index.php?r=apps/index , <em>as for Iphone, we haven&#8217;t develop it yet</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=502</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>D-Day XI : The Indolent Invasion</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=468</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=468#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2012 02:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Balik Layar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[You&#8217;ll never stop to worry about what might come, and cannot help to compare it with what you got before. The worst part is, it&#8217;s always easy to feel depressed when you think that you got the last one was better. Iki ngomong opo jeh? &#62;,&#60;&#8221; . Judulnya D-Day. Dareer Days? &#62;,&#60;&#8221; .  Karena hari ini, kebetulan ada Career Days going around me, a sleepyhead on a dole and Career Days official shirt,  rasanya tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>You&#8217;ll never stop to worry about what might come, and cannot help to compare it with what you got before. The worst part is, it&#8217;s always easy to feel depressed when you think that you got the last one was better. Iki ngomong opo jeh?</em> &gt;,&lt;&#8221; . Judulnya D-Day. Dareer Days? &gt;,&lt;&#8221; .  Karena hari ini, kebetulan ada Career Days <em>going around me</em>, <em>a sleepyhead on a dole and Career Days official shirt</em>,  rasanya tidak ada tiupan-tiupan ilham untuk mengarang bebas tentang hal lain.</p>
<p><em><a rel="attachment wp-att-478" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=478"><img class="alignleft size-medium wp-image-478" title="DSC_7768" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/07/DSC_77681-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>The thing is</em>, apabila kita mendengar D-Day, benak kita akan melayang ke pendaratan sekutu di Normandia yang legendaris itu. Momen yang <em>arguably</em> adalah klimaks dari perang dunia II di Eropa. Kalau di translasi ke Bahasa Indonesia, Hari H, maka tidak ada asosiasi khusus. Paling <em>pol</em> ya perhelatan-perhelatan seperti pernikahan, kelahiran dan sebagainya.</p>
<p><em>So, it&#8217;s a D-Day of yet another Career Days</em>. <em>Off schedule</em> memang, karena biasanya bulan Agustus atau September, atau paling cepat akhir Juli. <em>But here we are</em>. Karena <em>nanggung</em>nya jadwal wisuda dan Bulan Ramadhan, ECC UGM mencoba sesuatu yang baru tahun ini, tiga Career Days dalam setahun. Berikutnya adalah bulan Oktober,<em> insya ALLAH</em>. <em>The idea is</em>, untuk memberikan semakin banyak kesempatan kepada perusahaan untuk merekrut, kesempatan bagi rekan-rekan calon profesional muda untuk direkrut, kesempatan bagi rekan-rekan mahasiswa untuk belajar, kesempatan untuk rekan-rekan pengusaha kuliner membuka lapaknya di food court, dan semua pihak-pihak terkait dengan kesempatannya masing-masing. Untuk ECC UGM sendiri, mudah-mudahan semakin familiar untuk disebut dengan benar. Bukan EECya  tapi ECC &gt;,&lt; .</p>
<p>Satu cahaya tinggi (<em>highlight</em>) dari D-Day ini adalah, tidak berjubelnya lagi rekan-rekan jobseeker di arena Career Days ini. Di satu sisi, ada<a rel="attachment wp-att-483" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=483"><img class="alignright size-medium wp-image-483" title="DSC_8515" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/07/DSC_8515-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a> hal yang hilang. Karena seperti kebanyakan orang yang buat event, tentunya harapannya adalah eventnya ramai, gayeng, penuh. Acuan paling mudah kesuksesan suatu event. <em>However</em>, ketika ramai, berjubel, adalah rekan-rekan jobseeker yang dikorbankan. Career Days yang lalu bahkan tidak sedikit teman-teman yag habis waktunya selama dua hari, hanya untuk antri ke satu perusahaan saja. Sudah bedaknya jadi pembalut, hemnya jadi seperti kaosnya Taufik Hidayat habis badminton 5 set, kalah lagi, <em>and other miserable things You can imagine</em>.</p>
<p>Pada kesempatan ini, rekan-rekan jobseeker bisa memilih pekerjaannya dengan tenang, tidak berdesak-desakkan, bahkan sambil senyum-senyum tebar pesona. Barangkali yang sedikit mengkhawatirkan kami adalah, dari pihak perusahaan tidak akan mendapat pilihan kandidat sebanyak Career Days yang lalu. Mudah-mudahan bisa tertutup targetnya dengan kandidat yang ada saat ini. Kalaupun tidak, bisa ditutup dengan kandidat dari fasilitas lamar online ECC UGM yang memang kebetulan berhalangan hadir saat ini.</p>
<p>Ketika sekutu, ingin buru-buru menyelesaikan perang dengan operasi kebun pasarnya (<em>market garden</em>), <em>they&#8217;re a bridge too far</em>. Tinggal sedikit saja, tapi tetap toh hasilnya adalah gagal. Dengan santai, pelan-pelan tapi pasti, <em>we have time and space in our side</em>, mudah-mudahan Career Days ini mencapai tujuannya. Manfaat yang sebesar-besarnya untuk sebanyak-banyak pihak. <em>Amin</em>.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-485" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=485"></a><a rel="attachment wp-att-490" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=490"></a><a rel="attachment wp-att-491" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=491"><img class="aligncenter size-full wp-image-491" title="Untitled_Panorama1" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/07/Untitled_Panorama13.jpg" alt="" width="800" height="226" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=468</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s Lively, It&#8217;s Silly, It&#8217;s ECC-ly, It&#8217;s Family *yadda yadda</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=433</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=433#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2012 10:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Balik Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[The best part of working your socks off, crawling for your career improvement, is when you&#8217;re coming home in the evening, and let your faithfully waiting wife and son have your finest honest face smiling. Di kala cahya  surya  kuning melemah, aura hangat yang membelai ramah. Nuansa masa yang menua, riuh gaduh yang menjauh, Bergegas kita beranjak pulang, sebelum merah langit menjelang. Tawa bersambut, jiwa bertaut. Belahan hati, betah menanti. There, there, your beloved one, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a rel="attachment wp-att-455" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=455"><img class="alignleft size-medium wp-image-455" title="DSCN0292" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/06/DSCN0292-225x300.jpg" alt="" width="159" height="210" /></a>The best part of working your socks off, crawling for your career improvement, is when you&#8217;re coming home in the evening, and let your faithfully waiting wife and son have your finest honest face smiling.</em> Di kala cahya  surya  kuning melemah, aura hangat yang membelai ramah. Nuansa masa yang menua, riuh gaduh yang menjauh, Bergegas kita beranjak pulang, sebelum merah langit menjelang. Tawa bersambut, jiwa bertaut. Belahan hati, betah menanti. <em>There, there, your beloved one, two or three. Right in front your door, the smiling spree. Band of bloods ought to set your soul free. Coming home as a bird flies to it&#8217;s tree. A glorious glee.  */No, I&#8217;m not gonna spoil it with any of my typical crunchy childlike countrified jokes*/</em></p>
<p>Masa-masa yang kita gunakan untuk bekerja, berkarir, mencari nafkah, mengais-ngais rejeki, adalah masa-masa milik kita yang berharga. Masa muda di mana gairah, kekuatan fisik, pikir kita berada pada puncaknya. Masa keemasan, masa kegilaan. Pagi yang segar, hingga layu di akhir hari. <em>Our prime precious time</em>. Sesuatu yang sungguh hanya sekali pakai saja. <em>Over when it&#8217;s over</em>. Saat terbaik yang sebenarnya bisa kita gunakan untuk suatu hal yang paling kita cintai, sebelum pada suatu saat yang tidak kita nyana-nyana, <em>our time is up, and nothing we can do about anything, no more</em>.</p>
<p>Tempat kerja atau arena kita berkarir adalah <em>pressure zone</em>. <em>Where almost all burdens are piling up</em>. Saya kira apapun pekerjaan kita, hampir <a rel="attachment wp-att-456" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=456"><img class="alignright size-medium wp-image-456" title="DSCN0131" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/06/DSCN0131-e1341295108824-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>sama. Entah itu tekanan dari klien, atasan, rekan kerja, target, <em>deadline</em>, kebutuhan,<em> external disturbance</em> atau ambisi pribadi. Jadi kurang lebih di tempat kerja, semua potensi terbaik kita termasuk waktu dan emosi, kita berikan. Diperas sedemikian rupa, sampai terkadang tak tersisa. Pulang dengan gontai, lemas, capek, tak jarang pusing tentang beban pekerjaan hari esok. Adegan indah di paragraf pertama bagaikan bulan yang dirindukan yang si pungguk saja.<em> Instead of rushing home to share bunch of joys with danny boy, people desperate to be at home soon to get some rest, or at somewhere else to get some consolations</em>. Setiap minggu malam seperti mau kiamat saja, <em>and they put the blame on the day after, they hate Monday as if it&#8217;s a soul sucker monster</em>.</p>
<p><em>But that&#8217;s not what we have here, Jim</em>! Kami tidak inginkan hal itu terjadi di tempat kerja kami. Adalah kekeluargaan, asas yang selalu kami tekankan kepada teman-teman yang baru bergabung di ECC UGM. <em>We&#8217;d like to make our office as homey as Homer Simpson could ever ask</em>. Jangan heran kalau<em> in a sudden, out of nothing, burst of laugh</em> terdengar lantang di kantor kami, sampai-sampai daun-daun pohon beringin depan kantor berguguran. <em>We throw childish banter to each other whenever possible</em>. Kadang-kadang sebagian kami merasa telah disedot oleh <em>blackhole</em> atau <em>wormhole</em> dan dilemparkan kembali ke bangku-bangku kelas kami semasa SMP. <em>Cannot say it&#8217;s not fun</em>. Tapi ketika melihat gambar besarnya, <em>when you literally zoom the view out</em>, di tengah-tengah lautan tawa, ada segolongan orang yang tak terkesan sama sekali. Dengan headphone ala disco 88 /*<em>now I sound so old, do I not ?</em>/*, wajah mereka tak berubah sedikitpun, memandang tajam pada layar laptop mereka, seakan-akan laptop mereka telah merebut kekasih hati yang tidak pernah mereka punyai. Hahah, <em>IT support guys we are proud of, the <a href="http://www.swevel.com">swevel</a> lads. To see their stone cold face in such moment is priceless. We feel you, brothers</em>.</p>
<p><em><a rel="attachment wp-att-457" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=457"><img class="alignleft size-medium wp-image-457" title="DSCN0099" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/06/DSCN0099-300x225.jpg" alt="" width="228" height="171" /></a>There&#8217;s mountain, there&#8217;s sea. There&#8217;s laughter, there&#8217;s tear</em>. Wajar sekali dalam interaksi kami pun terjadi sedikit gesekan-gesekan interpersonal yang harus diselesaikan dengan air mata. Tapi ya selesai, <em>finish, period</em>, tamat, <em>the end</em>, rampung, <em>entek, tek tung</em>. Air mata justru menunjukkan betapa ada ikatan emosi yang kuat di antara kami. Dan untuk melayani ribuan perusahaan plus puluhan ribu rekan-rekan pencari kerja,<em> not to mention other stakeholders such as university and government</em>, kita sangat butuh ikatan itu, <em>we used to call it</em> kesatuan hati.</p>
<p><em>That being said</em>, kami berharap sepulangnya kami dari pekerjaan, bukan hanya lelah yang kami bawa. <em>But we also bring joy to behold and to  be told, satisfaction, good soul, cup of kindness</em>, bahan bakar <a rel="attachment wp-att-458" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=458"><img class="alignright size-medium wp-image-458" title="DSC_0029" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/06/DSC_0029-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>yang cukup untuk mengembangkan senyum tulus kami kepada keluarga kami di rumah. <em>Just like mommy hen bring the worm spaghetti for babies chickling</em>.</p>
<p>Rasanya tidak ada lembaga/perusahaan/kantor yang mengadakan acara <em>family gathering</em> dan makan-makan sesering kami, <em>so often we should apply such record to MURI so we can display it in our living room, and stare the certificate with full of proud and pride</em> &gt;,&lt; . Suasana kantor yang senyaman mungkin adalah yang kami inginkan. Saking kerasannya di kantor, teman-teman sepertinya suka sekali lembur dan mejanya berantakan, hahah. &#8220;<em>Wes jaaannn, bocah-bocah ora pati nggenah</em>&#8220;, jerit batin Pak Toro.</p>
<p><em>So, professional to clients, compassionate to partners. Don&#8217;t we, guys</em>? ^^</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=433</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stairway to Sugar-Ray</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=416</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=416#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 May 2012 02:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Balik Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[To reach the top you need to climb. Pure and simple. Oalah mas, hariii giniiiiii! Kita sekarang ini hidup di nano-age. Dunia digital yang antikonvensional. Sudah bukan jamannya Shakespeare dengan kata-kata indah yang menipu daya lagi. Kita bisa mencapai puncak dengan naik helikopter, multi terrain vehicle, superconduktor levitator, portable rocketeer suit ala iron man, interdimensional vortex gate, baling-baling bambu, pintu ke mana saja, atau langsung saja ber-apparate ala harry kopter. Man, I feel so old [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>To reach the top you need to climb. Pure and simple</em>. <em>Oalah mas</em>, hariii giniiiiii! Kita sekarang ini hidup di nano-age. Dunia digital yang antikonvensional. Sudah bukan jamannya Shakespeare dengan kata-kata indah yang menipu daya lagi. Kita bisa mencapai puncak dengan naik helikopter, multi terrain vehicle, superconduktor levitator, portable rocketeer suit ala iron man, interdimensional vortex gate, baling-baling bambu, pintu ke mana saja, atau langsung saja ber-apparate ala harry kopter. <em>Man, I feel so old </em>&gt;,&lt;&#8221;.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-424" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=424"><img class="alignleft size-medium wp-image-424" title="P1000762" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/05/P10007621-e1338794197974-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Mungkin hari ini banyak orang yang bisa mencapai puncak dengan rumus praktis nya sendiri, <em>either involving advance technology or advance psychology</em>. Dengan begitu orang tidak perlu bersusah payah atau bahasa kampusnya, berproses, untuk mencapai puncak. <em>However, my favourite conjunctive, thing that easy to get is less worthy</em> */<em>Oalah, yet another mumbo jumbo from Shakespeare wannabe seasonal blogger </em>&gt;,&lt;&#8221;*/ . Sesuatu yang kita raih dengan mudah, biasanya kurang berharga, sebagaimana barang gratis dibandingkan barang yang mahal. Pada suatu saat di masa depan, orang akan lebih antusias untuk menceritakan jerih payahnya ketika berusaha mencapai puncak daripada puncak itu sendiri. Ini dari tadi puncak-puncak melulu, puncak apaan sih? &gt;,&lt;&#8221;</p>
<p><em>Oh well, nuff with pathetic childish soliloquy prolog ala Srimulat</em>. Kesuksesan erat dengan kerja keras. Ketika kita mencapai posisi direktur suatu perusahaan melalui jenjang karir yang ditentukan, maka kita akan dikatakan sukses. Lain halnya bila kita menjadi direktur perusahaan karena hubungan kekeluargaan dsb. Kita masih perlu melakukan banyak hal untuk bisa dikatakan sukses. Dalam rangka mencapai kesuksesan/target/visi/puncak itu maka orang melakukan siklus strategi-eksekusi-evaluasi, demikian berulang-ulang. Sadar atau tidak itulah yang dilakukan seorang pekerja keras setelah menetapkan target.</p>
<p><em>Now, Let&#8217;s put it in the context</em>. Dari sisi kami, ECC UGM, selain layanan informasi yang selama ini sudah kami berikan, walaupun masih banyak kekurangan di sana sini, kita punya target lain yaitu untuk menjadi media pengembangan karir. Tentu saja obyek utamanya adalah teman-teman yang hendak berkarir, baik yang sudah <em>experienced</em>, <em>fresh graduates</em>, bahkan teman-teman mahasiswa. Menurut kami, untuk perencanaan dan persiapan karir, semakin dini semakin baik. <em>Fail to plan, plan to fail</em>. Pada suatu ketika yang ideal, mahasiswa yang lulus menjadi <em>fresh graduates</em>, sudah pasti arah karirnya ke mana dan sudah memiliki kualitas yang disyaratkan, baik <em>hardskill</em> maupun <em>softskill</em>. Dan seorang <em>experienced</em> yang mungkin tidak cocok dengan karirnya yang sekarang bisa menemukan karir yang lebih sesuai. Kalau sudah begini , adakah pihak yang tidak diuntungkan?</p>
<p>Untuk tujuan itulah kami berpikir keras yang kemudian ditindaklanjuti dengan kerja keras, dan evaluasi terus menerus. <em>Of course, no matter how high the mountain you ought to climb, You have to start it with a single step</em>. Kami memulai dengan membuat fasilitas <em><a href="http://ecc.ft.ugm.ac.id/index.php?r=berita/detil&amp;id=1263">online assessment</a></em> untuk teman-teman, untuk memberikan gambaran di mana teman-teman sekarang berada. Dan di situ kami berikan usulan-usulan untuk pengembangan diri anda dalam wujud training. Untuk training ini kami juga sudah memulainya, terutama yang softskill. <em>By the time being</em>, kita juga sedang membangun database perusahaan dan requirementnya, sehingga nanti teman-teman bisa <em>compare</em>, bisa tahu <em>gap</em> antara keadaan teman-teman sekarang dengan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Dengan begitu teman-teman bisa mengejar, salah satunya dengan training. Kita juga sedang menjajagi kemungkinan untuk diadakan konselling karir secara offline dengan psikolog kami.</p>
<p>Yeah, untuk training memang ada biaya lagi. Tapi sungguh bukan profit yang kami kejar */<em>dan memang rugi kalau dihitung-hitung secara finansial </em>&gt;,&lt;*/. Sekali lagi, untuk mencapai puncak memang menanjak jalannya. Tapi kami yakin, segalanya akan terasa ringan jika kita berjalan beriringan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=416</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baby Boo-ming</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=378</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=378#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 May 2012 08:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Balik Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[Youth is the breath of  everlasting history. You must entrust your future dream and hope to the next generation, not that you got options. Di masa awal-awal peradaban manusia, orang mempunyai anak  semata-mata untuk meneruskan generasi. Survival. Jadi simpel saja konsepnya, kita berusaha punya anak sebanyak-banyaknya agar anak-anak kita itu nanti juga punya anak sebanyak-banyaknya. Dengan semakin banyaknya anak, maka peluang untuk lestarinya generasi semakin besar. Jadi lembaga yang kompleks secara infrastruktur dan suprastruktur seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Youth is the breath of  everlasting history. You must entrust your future dream and hope to the next generation, not that you got options</em>. Di masa awal-awal peradaban manusia, orang mempunyai anak  semata-mata untuk meneruskan generasi. Survival. Jadi simpel saja konsepnya, kita berusaha punya anak sebanyak-banyaknya agar anak-anak kita itu nanti juga punya anak sebanyak-banyaknya. Dengan semakin banyaknya anak, maka peluang untuk lestarinya generasi semakin besar. Jadi lembaga yang kompleks secara infrastruktur dan suprastruktur seperti negara, PBB, dan universitas pun tidak diperlukan pada masa itu, apalagi career center.</p>
<p>Hari ini kita hidup di dunia yang ruwet dengan konsepsi, visi dan misi. Belum lagi distribusi, konsumsi, interupsi, administrasi, profesi, <a rel="attachment wp-att-399" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=399"><img class="alignright size-medium wp-image-399" title="clip DSC_1366" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/05/clip-DSC_1366-199x300.jpg" alt="" width="128" height="193" /></a>transportasi, korupsi, propagasi, sanitasi, konjugasi, demokrasi, justifikasi, audisi, garasi, sambel-terasi /*<em>I can do this all day, not proud of it/</em>* , dan masih berjuta &#8216;si, si&#8217; yang lain, termasuk yang tidak pantas ditulis di sini.  Tahun ini, sedianya populasi /*<em>there, another &#8216;si&#8217; detected</em>/* penduduk dunia mencapai 7 miliar, dan terus bertambah dengan hitungan deret ukur. Masing-masing kepala membawa &#8216;si, si&#8217; nya sendiri sendiri. Saking bingungnya, orang-orang mulai berpikir untuk membatasi populasi dengan segala cara. Termasuk menunda-nunda untuk menikah <em>/</em>*<em>hahah, please do not read this blog seriously</em>*/. Bayangkan berapa banyak &#8216;si&#8217; yang harus dihapal anak-anak kita sekarang.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-384" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=384"><img class="alignleft size-medium wp-image-384" title="DSCN0202" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSCN02022-225x300.jpg" alt="" width="128" height="170" /></a>ALHAMDULILLAH, ECC UGM didominasi /*<em>theeethoooot, another &#8216;si&#8217; detected/</em>* oleh anak-anak muda yang sedang subur-suburnya. Satu dua tahun terakhir ini ada<em> adek</em> baru di sini hampir setiap dua, tiga bulan. Minimal setiap caturwulanlah seperti THB*). Lahir satu hamil se-ibu, masuk satu cuti se-ibu. Jadi susah juga mengagendakan family gathering yang bisa dihadiri semua. <em>However, it&#8217;s never ending laughter down here at our office</em>. <em>In a sun shiny ordinary day, baby breeds <a rel="attachment wp-att-406" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=406"><img class="alignright size-medium wp-image-406" title="clip khansa_121302_07" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/05/clip-khansa_121302_072-210x300.jpg" alt="" width="132" height="189" /></a>cheeriness, no</em>?</p>
<p>Orang-orang merindukan pemimpin yang mengayomi, penegak hukum yang adil, pemuka agama yang menyejukkan, pengusaha yang jujur, ilmuwan yang bermoral, orang tua yang baik, anak yang sholeh, rakyat yang taat, career center yang great jobs within a click dan lain-lain. Pada Irbath, Aila, Zaky, Faiz, Ibrahim, Khanza, Albi, Keynand, Almira, Azka lah <em>/*ada yang terlewat?/* </em> kami letakkan mimpi-mimpi itu untuk wujud. Termasuk juga mimpi ECC UGM untuk memberi kemanfaatan untuk sebanyak-banyaknya orang /*<em>ndak pakai si-si an</em>/*. Jika dari 7 miliar penduduk dunia, 1 miliarnya saja punya jiwa melayani dan memberi manfaat, <em>what a beautiful world it would have been</em>.</p>
<p>Jadi Om Yudhi kapan, Om?  /*<em>hahah, one of greatest perks of being a seasonal blogger, we write whom we want. </em></p>
<p><em>*) THB = Tes Hasil Belajar, evaluasi hasil belajar siswa SD jaman ketika saya masih kecil setiap 4 bulan sekali.<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=378</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Crazy Lil&#8217; Overrated Thing Called Career</title>
		<link>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=362</link>
		<comments>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=362#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 05:45:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[There&#8217;re a lot more to life than career. Well, as much as I won&#8217;t tag it as a controversial line,  I&#8217;m pretty sure the world will be separated by that brows-wrinkling statement into two opposing sides of agreeing and disagreeing. But hey, it had been a world of agreeing and disagreeing in every single thing for so long while, as long as human kind can ever recall, no? of course we can always agree to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>There&#8217;re a lot more to life than career. Well, as much as I won&#8217;t tag it as a controversial line,  I&#8217;m pretty sure the world will be separated by that brows-wrinkling statement into two opposing sides of agreeing and disagreeing. But hey, it had been a world of agreeing and disagreeing in every single thing for so long while, as long as human kind can ever recall, no? of course we can always agree to disagree in this matter either. </em>*<em>this is what  a seasonal blogger used to write,  complexation of a simple thing, or in a seven letter word : rubbish */insert peace emoticon</em> ^^v</p>
<p>﻿<a rel="attachment wp-att-368" href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?attachment_id=368"><img class="alignleft size-medium wp-image-368" title="careerday VI-0175" src="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/wp-content/uploads/2012/01/careerday-VI-0175-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Kembali ke masalah karir, sesuai dengan domain kita yang konon adalah career center.  Saya sendiri cukup yakin, sebagian besar orang dalam hatinya tak kuasa membantah bahwasanya banyak hal yang lebih penting daripada karir. Keluarga misalnya, tetangga , negara, ideologi, kemanusiaan,  agama dll. Hal-hal yang kalau dibenturkan dengan karir, berat rasanya dalam hati kita untuk mengalahkannya. <em>A wise-baldy-look older than his real age-man might say you cannot compare those things apple to apple like that,  they&#8217;re all important and they don&#8217;t contradict each other </em><em>unnecessarily </em>.  <em>Sounds so sweet and true, eh? However, the truth is out there *X-Files soundtrack fade in*. The reality bites, you only have one time and one self in your life</em>. Anda semakin tua dan layu tiap detiknya, dan waktu yang telah anda lewati tidak bisa anda ulang lagi. Dan anda harus memutuskan untuk apa potensi dan waktu anda yang tersisa itu akan anda gunakan? karir? keluarga? ideologi? yang lain?.</p>
<p>Lho, kan bisa diatur dengan manajemen waktu dan skala prioritas? Oh well, apa kata manajemen waktu dan skala prioritas ketika deadline dari bos atau panggilan dari bos datang tiba-tiba bersamaan dengan hari libur yang menjadi hak keluarga kita, bersamaan dengan itu ada panggilan tugas keagamaan, <em>eeee</em> masih belum cukup tetangga akrab sebelah rumah persis meninggal dunia?  <em>Errr, ndilalah</em> &gt;,&lt;&#8217;  di saat itu juga tim sepakbola kesayangan anda sedang ditayangkan di televisi, final lagi, sedangkan anak anda menangis meraung-raung ingin nonton ipin dan upin. Kok ekstrim dan mengada-ada banget toh mas? *Again, blogger musiman ini, <em>we write what we want </em>^^.</p>
<p><em>Long story short</em>, karir menjadi trend besar hari ini. Sesuatu yang harus ditanyakan setelah <em>a flat socially spoken &#8216;how do you do?</em>&#8216;,  ketika anda bertemu teman lama. Dan seakan-akan orang akan berkurang nilainya, <em>just because she/he&#8217;s not a settled employee, just because she prefers to be a house mom</em>. <em>That being said, it did us favour, to be honest. In the term of business</em>. Tapi sungguh bukan begitu pandangan kami. Karir hanya keperluan saja, makanya seharusnya dipermudah. Dan kami hadir berusaha untuk mempermudah saja. Sesuai dengan slogan layanan kami EASE : Easy Accomodative Synergy Effective, <a href="http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/index.php?r=site/page&amp;view=employer_tour">klik deh kalo ndak percaya</a>.</p>
<p>Visi kami adalah untuk melayani. Dan tentu saja masih banyak kekurangannya, dan banyak yang dikecewakan. <em>We&#8217;re really sorry</em>. Kadang-kadang sedih juga menanggapi ekspresi kekecewaan teman-teman yang &#8216;cyber&#8217; banget. <em>But hey, that&#8217;s what we do here, as our humble career. </em>Kita <em>take it easy</em> saja. Sesuai dengan slogan kami dalam bekerja EASY : <em>Eeeee Alaaaaahh Sabaaaar Yaaa</em>, <a href="udeh dibilangin juga">ndak usah di klik, I made it up</a>.</p>
<p><em>The silver line is</em>,<em> nda</em>k sedikit juga yang mendoakan kami. Sangat menyenangkan, bahkan sampai kadang-kadang merinding dan mata berkaca-kaca, ketika membaca testimoni dari teman-teman yang merasa sangat terbantu dengan apa yang kami lakukan. <em>Such moment when words fail you</em> T.T . <em>Really buddy</em>, tidak banyak hal yang bisa menandingi perasaan seperti itu. Apalagi kok cuma gajian ^^.  <em>Last but not least</em>, <em>we thank you all for any kinda supports and feedback, wish you all the best with your career and more even your life.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ecc.ft.ugm.ac.id/blog/?feed=rss2&amp;p=362</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
